Rabu, 27 Juni 2012

Lintah Menjijikkan Namun Efektif Atasi Penyakit Kardiovaskuler

Ada pengobatan alternatif bagi pengidap pasien jantung. Terapi lintah atau hirudinea memberi harapan baru bagi kesembuhan penderita penyakit kardiovaskuler. (foto: Google
Lintah binatang yang cukup ditakuti. Tapi jangan paranoid dulu, karena lintah mempunyai khasiat yang sangat berarti untuk mengobati penyakit seperti diabetes, jantung, migrain, saraf terjepit, sinusitis, cedera otot dan penyakit karena darah kotor.
Penyakit yang paling banyak disembuhkan dengan terapi lintah ini adalah penyakit jantung koroner, gagal jantung, kebocoran jantung, pembengkakan jantung dan migrain.
"Lintah dapat meregenerasi syaraf yang mati sehingga terapi ini sangat bagus untuk mengobati penyakit syaraf dan kardiovaskuler, jadi tidak semua penyakit bisa sembuh dengan terapi lintah," ujar Bapak Alie terapis lintah.
Lintah yang dipergunakan untuk terapi ini adalah lintah jenis Medicinalis yang berasal dari hutan atau sungai di daerah Aceh, karena di daerah tersebut lintah ini masih steril, sedangkan lintah yang terdapat di sawah ataupun lumpur sudah tidak steril lagi. Bisa juga menggunakan lintah Medicinalis yang telah diternakkan.
Pada terapi ini prosesnya adalah dengan menempelkan 2 lintah di titik-titik yang menjadi pusat penyakit tersebut selama setengah sampai satu jam, lalu lintah tersebut dilepas dan pasien akan diberikan ramuan herbal untuk menunjang penyembuhan.
Pada saat lintah tersebut ditempelkan, maka lintah akan mengeluarkan lendir yang berguna untuk meregenerasi saraf, mengeluarkan darah kotor dan menyembuhkan penyakit, dalam hal ini tidak ada minyak lintah karena 99% tubuh lintah terdiri dari air atau lendir.
"Biasanya untuk penderita jantung bisa sembuh secara total dengan 16 kali terapi sedangkan untuk migrain sebanyak 8 kali terapi, namun pasien akan merasa lebih baik setelah 3-4 kali terapi," ujarnya.
Selain penyakit tersebut, terapi lintah ini juga bisa menyembuhkan kanker namun dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi, bisa mencapai berbulan-bulan tergantung dari keadaan penyakit kanker tersebut.
"Semua orang bisa melakukan terapi lintah kecuali anak-anak di bawah usia 7 tahun dan ibu hamil, karena pada prosesnya ada pengeluaran darah yang takutnya bisa menyebabkan komplikasi pada ibu hamil tersebut," ujar terapis yang berpraktek di Grogol Jakarta ini.
Harga untuk terapi lintah ini berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per sesi yang terdiri dari 8 kali terapi, dan biasanya pasien yang sudah melakukan terapi ini hingga selesai akan sembuh secara total.
"Saya mengalami kebocoran jantung namun setelah diterapi lintah selama 2 bulan dan meminum ramuan herbalnya sekarang saya dinyatakan sembuh," ujar Farida pasien dengan kebocoran jantung.
Tidak ada pantangan dalam melakukan terapi lintah ini tapi setelah sembuh sebaiknya pasien tetap menjaga pola hidup yang sehat, pola makan yang baik dan tetap berolahraga dengan teratur.
Lebih jelasnya, berikut penjelasan mengenai terapi lintah untuk penyakit jantung. Terapi lintah atau hirudinea memberi harapan baru bagi kesembuhan penderita penyakit kardiovaskuler.
Lintah dan pacet (leech) adalah hewan yang tergabung dalam filum Annelida subkelas Hirudinea yang dikenal sebagai karnivor dan penghisap darah. Namun, di tangan terapis Alie Ahmad, hewan ini berubah menjadi obat penyakit jantung.
Keampuhan terapinya makin tokcer disandingkan dengan pengobatan herbal.
Alie mengatakan, pembuluh darah manusia sebenarnya fleskibel. Namun, kolesterol, lemak dan kalsium membuat pembuluh darah menyempit, tersumbat atau terjadi pembekuan darah.
Lintah memiliki antikoagulan yang membuat darah tak mudah pecah atau menggumpal. Dua-tiga ekor lintah yang diletakkan pada dada sebelah kiri selama 30 menit akan menghisap lendir dan darah yang menyumbat pembuluh darah sehingga peredaran darah kembali lancar. Selain terapi lintah, pasien akan memperoleh herbal racikannya sendiri. "Sebotol herbal dipakai selama 3,5 hari dan diminum selama dua bulan," katanya di tempat prakteknya di Ruko Mal Seasons City, Jakarta Barat.
Untuk bahan herbal, terapis yang telah memulai kliniknya sejak 2000 ini mendatangkan langsung dari China. Kemudian, ia sendiri yang meracik sesuai tingkat kebutuhan para pasiennya.
Itu pula sebabnya Alie tak punya klinik cabang selain di rukonya Herbalnya hanya bisa bertahan 7-8 jam dalam suhu ruang sehingga harus selalu dalam lemari pendingin. Bagi pasien yang berkonsultasi lewat telepon atau dari daerah yang jauh, herbal akan diterbangkan dalam keadaan beku atau kering ke tempat tujuan.
Dengan pengawasan yang ketat, Alie menjamin kesembuhan 9 dari 10 pasien yang datang. " Sejak awal kami melihat apakah pasien masih dapat sembuh atau tidak. Kalau memang sulit, saya akan menolaknya karena ada jaminan," ujar terapis yang memulai kliniknya di Medan.
Berdasarkan pengalamannya, Ali menyatakan mampu menyembuhkan penyakit kardiovaskuler antara lain jantung koroner, jantung bengkak, jantung panas, kebocoran jantung, gangguan katup jantung, gangguan arus listrik katup jantung, gangguan irama jantung, lemah jantung, penyempitan pembuluh darah jantung, penyumbatan pembuluh darah jantung, penyumbatan serabut koroner jantung.
Alie menyebut pasien-pasiennya berasal dari berbagai kalangan termasuk kepala daerah dari seluruh Indonesia, anggota legislatif, bahkan kalangan penyembuh pun datang ke tempatnya. Dia pun melayani pasien yang berasal dari luar negeri seperti Jepang, Korea, Singapura hingga Amerika Serikat. Alie mempersilakan pasien yang tetap minum obat dari dokter. "Dengan syarat diminum sejam sebelum minum obat herbal," ia mengimbuhkan.
Memang, sekali terapi di tempat ini tak murah. Sekali terapi lintah dengan dua botol herbal untuk seminggu, pasien harus mengeluarkan uang Rp3,9 juta. Namun ia menjamin setelah 16 kali terapi, pasiennya telah dapat hidup normal.
Seorang pasien, Wilmar, mengaku baru sekali menjalani terapi telah merasakan manfaatnya. Rasa dingin pada tangan dan lemas pada kaki telah hilang. Dia pun dapat tidur nyenyak di malam hari. "Makanya saya optimis dapat sembuh di sini," katanya. Dari hasil pemeriksaan labolatorium, ia dideteksi mengalami gangguan pada jantung yang membengkak.
Lain pula Rismat Tarigan. Pria 60 tahun divonis dokter untuk menjalani operasi bypass. Namun ia memilih untuk menjalani pengobatan alternatif lebih dulu. "Saya sebelumnya punya diabetes dan hepertensi. Saya ingin mencoba terapi ini daripada dioperasi." Dan, ia merasa lebih enak meski baru menjalani terapi sekali.
Alie menyarankan ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi penderita jantung yaitu garam, kopi dan terutama daging kambing. Makanan tersebut akan menyebabkan pembuluh darah terganggu. (fn/dt/vs) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar