Ada pengobatan alternatif bagi
pengidap pasien jantung. Terapi lintah atau hirudinea memberi harapan baru bagi
kesembuhan penderita penyakit kardiovaskuler. (foto: Google
Lintah
binatang yang cukup ditakuti. Tapi jangan paranoid dulu, karena lintah
mempunyai khasiat yang sangat berarti untuk mengobati penyakit seperti
diabetes, jantung, migrain, saraf terjepit, sinusitis, cedera otot dan penyakit
karena darah kotor.
Penyakit
yang paling banyak disembuhkan dengan terapi lintah ini adalah penyakit jantung
koroner, gagal jantung, kebocoran jantung, pembengkakan jantung dan migrain.
"Lintah
dapat meregenerasi syaraf yang mati sehingga terapi ini sangat bagus untuk
mengobati penyakit syaraf dan kardiovaskuler, jadi tidak semua penyakit bisa
sembuh dengan terapi lintah," ujar Bapak Alie terapis lintah.
Lintah
yang dipergunakan untuk terapi ini adalah lintah jenis Medicinalis yang berasal
dari hutan atau sungai di daerah Aceh, karena di daerah tersebut lintah ini
masih steril, sedangkan lintah yang terdapat di sawah ataupun lumpur sudah
tidak steril lagi. Bisa juga menggunakan lintah Medicinalis yang telah
diternakkan.
Pada
terapi ini prosesnya adalah dengan menempelkan 2 lintah di titik-titik yang
menjadi pusat penyakit tersebut selama setengah sampai satu jam, lalu lintah
tersebut dilepas dan pasien akan diberikan ramuan herbal untuk menunjang
penyembuhan.
Pada
saat lintah tersebut ditempelkan, maka lintah akan mengeluarkan lendir yang
berguna untuk meregenerasi saraf, mengeluarkan darah kotor dan menyembuhkan
penyakit, dalam hal ini tidak ada minyak lintah karena 99% tubuh lintah terdiri
dari air atau lendir.
"Biasanya
untuk penderita jantung bisa sembuh secara total dengan 16 kali terapi sedangkan
untuk migrain sebanyak 8 kali terapi, namun pasien akan merasa lebih baik
setelah 3-4 kali terapi," ujarnya.
Selain
penyakit tersebut, terapi lintah ini juga bisa menyembuhkan kanker namun
dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi, bisa mencapai berbulan-bulan tergantung
dari keadaan penyakit kanker tersebut.
"Semua
orang bisa melakukan terapi lintah kecuali anak-anak di bawah usia 7 tahun dan
ibu hamil, karena pada prosesnya ada pengeluaran darah yang takutnya bisa
menyebabkan komplikasi pada ibu hamil tersebut," ujar terapis yang
berpraktek di Grogol Jakarta ini.
Harga
untuk terapi lintah ini berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per sesi
yang terdiri dari 8 kali terapi, dan biasanya pasien yang sudah melakukan
terapi ini hingga selesai akan sembuh secara total.
"Saya
mengalami kebocoran jantung namun setelah diterapi lintah selama 2 bulan dan
meminum ramuan herbalnya sekarang saya dinyatakan sembuh," ujar Farida
pasien dengan kebocoran jantung.
Tidak
ada pantangan dalam melakukan terapi lintah ini tapi setelah sembuh sebaiknya
pasien tetap menjaga pola hidup yang sehat, pola makan yang baik dan tetap
berolahraga dengan teratur.
Lebih
jelasnya, berikut penjelasan mengenai terapi lintah untuk penyakit jantung.
Terapi lintah atau hirudinea memberi harapan baru bagi kesembuhan penderita
penyakit kardiovaskuler.
Lintah
dan pacet (leech) adalah hewan yang tergabung dalam filum Annelida subkelas
Hirudinea yang dikenal sebagai karnivor dan penghisap darah. Namun, di tangan
terapis Alie Ahmad, hewan ini berubah menjadi obat penyakit jantung.
Keampuhan
terapinya makin tokcer disandingkan dengan pengobatan herbal.
Alie
mengatakan, pembuluh darah manusia sebenarnya fleskibel. Namun, kolesterol,
lemak dan kalsium membuat pembuluh darah menyempit, tersumbat atau terjadi
pembekuan darah.
Lintah
memiliki antikoagulan yang membuat darah tak mudah pecah atau menggumpal.
Dua-tiga ekor lintah yang diletakkan pada dada sebelah kiri selama 30 menit
akan menghisap lendir dan darah yang menyumbat pembuluh darah sehingga peredaran
darah kembali lancar. Selain terapi lintah, pasien akan memperoleh herbal
racikannya sendiri. "Sebotol herbal dipakai selama 3,5 hari dan diminum
selama dua bulan," katanya di tempat prakteknya di Ruko Mal Seasons City,
Jakarta Barat.
Untuk
bahan herbal, terapis yang telah memulai kliniknya sejak 2000 ini mendatangkan
langsung dari China. Kemudian, ia sendiri yang meracik sesuai tingkat kebutuhan
para pasiennya.
Itu
pula sebabnya Alie tak punya klinik cabang selain di rukonya Herbalnya hanya
bisa bertahan 7-8 jam dalam suhu ruang sehingga harus selalu dalam lemari
pendingin. Bagi pasien yang berkonsultasi lewat telepon atau dari daerah yang
jauh, herbal akan diterbangkan dalam keadaan beku atau kering ke tempat tujuan.
Dengan
pengawasan yang ketat, Alie menjamin kesembuhan 9 dari 10 pasien yang datang.
" Sejak awal kami melihat apakah pasien masih dapat sembuh atau tidak.
Kalau memang sulit, saya akan menolaknya karena ada jaminan," ujar terapis
yang memulai kliniknya di Medan.
Berdasarkan
pengalamannya, Ali menyatakan mampu menyembuhkan penyakit kardiovaskuler antara
lain jantung koroner, jantung bengkak, jantung panas, kebocoran jantung,
gangguan katup jantung, gangguan arus listrik katup jantung, gangguan irama
jantung, lemah jantung, penyempitan pembuluh darah jantung, penyumbatan
pembuluh darah jantung, penyumbatan serabut koroner jantung.
Alie
menyebut pasien-pasiennya berasal dari berbagai kalangan termasuk kepala daerah
dari seluruh Indonesia, anggota legislatif, bahkan kalangan penyembuh pun datang
ke tempatnya. Dia pun melayani pasien yang berasal dari luar negeri seperti
Jepang, Korea, Singapura hingga Amerika Serikat. Alie mempersilakan pasien yang
tetap minum obat dari dokter. "Dengan syarat diminum sejam sebelum minum
obat herbal," ia mengimbuhkan.
Memang,
sekali terapi di tempat ini tak murah. Sekali terapi lintah dengan dua botol
herbal untuk seminggu, pasien harus mengeluarkan uang Rp3,9 juta. Namun ia
menjamin setelah 16 kali terapi, pasiennya telah dapat hidup normal.
Seorang
pasien, Wilmar, mengaku baru sekali menjalani terapi telah merasakan
manfaatnya. Rasa dingin pada tangan dan lemas pada kaki telah hilang. Dia pun
dapat tidur nyenyak di malam hari. "Makanya saya optimis dapat sembuh di
sini," katanya. Dari hasil pemeriksaan labolatorium, ia dideteksi
mengalami gangguan pada jantung yang membengkak.
Lain
pula Rismat Tarigan. Pria 60 tahun divonis dokter untuk menjalani operasi
bypass. Namun ia memilih untuk menjalani pengobatan alternatif lebih dulu.
"Saya sebelumnya punya diabetes dan hepertensi. Saya ingin mencoba terapi
ini daripada dioperasi." Dan, ia merasa lebih enak meski baru menjalani
terapi sekali.
Alie
menyarankan ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi penderita
jantung yaitu garam, kopi dan terutama daging kambing. Makanan tersebut akan
menyebabkan pembuluh darah terganggu. (fn/dt/vs) www.suaramedia.com